Pernahkah kita menyadari bahwa di tengah gemerlap kota besar, minat baca anak-anak kita perlahan tergerus oleh layar gawai yang lebih memikat? Fenomena ini bukan sekadar kekhawatiran—melainkan panggilan untuk bertindak. Namun, jangan putus asa: kita punya kekuatan untuk mengubah situasi ini dari lingkungan terdekat. Bayangkan, sebuah sudut rumah atau pos ronda yang semula tak terpakai berubah menjadi perpustakaan mini yang hidup. Itulah Pojok Baca Tetangga, sebuah gerakan sederhana yang bisa kita bangun bersama.
Mengapa ini penting? Karena fondasi literasi dibangun sejak dini, dan buku adalah jendela dunia yang tidak bisa digantikan oleh notifikasi digital. Ketika anak-anak tenggelam dalam cerita bergambar atau petualangan para tokoh, mereka sedang mengasah imajinasi, empati, dan kemampuan berpikir kritis. Pojok Baca Tetangga bukan hanya soal buku, melainkan soal kebersamaan dan kebiasaan. Ini adalah investasi kecil yang dampaknya bisa melampaui generasi.
Apa yang bisa kita lakukan? Mulailah dari langkah kecil: sumbangkan satu buku dari rumah. Buku itu bisa menjadi benih yang kemudian tumbuh menjadi koleksi tetangga. Relawan pun bisa hadir untuk mendesain rak buku sederhana, mengadakan sesi cerita dongeng, atau menjadi relawan membaca yang menemani anak-anak menjelajahi halaman per halaman. Tidak perlu menunggu sempurna—mulailah dari pos ronda, teras rumah, atau bahkan kursi lipat di pinggir gang. Setiap sudut bisa menjadi pojok literasi.
Sekarang, saatnya kita bergerak bersama. Ajak tetangga kanan kiri untuk menyumbangkan satu buku favorit mereka. Buatlah jadwal rutin untuk membaca bersama anak-anak di lingkungan kita. Jadilah relawan yang siap menghidupkan pojok baca dengan cerita-cerita inspiratif. Ingat, literasi bukanlah milik perpustakaan besar, melainkan milik kita semua—dari rumah, untuk lingkungan, untuk masa depan. Mari ciptakan kebiasaan literasi dari langkah pertama yang paling dekat.