Di tengah derasnya arus digitalisasi, ada satu kelompok yang kerap terpinggirkan: para lansia. Pandemi lalu menjadi cermin yang jujur—betapa banyak kakek-nenek kita yang kesulitan membeli obat online, mendaftar vaksinasi, atau sekadar mengirim pesan kepada cucu di perantauan. Kini, kebutuhan untuk melek digital semakin mendesak. Bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga soal kemandirian dan martabat mereka di era modern.
Namun, masalah ini bukan tanpa solusi. Di balai-balai RW, muncul gerakan yang sederhana namun berdampak besar: Sekolah Sore. Inisiatif relawan yang mengajar dasar-dasar smartphone dan internet kepada para lansia. Di sini, tidak ada istilah 'gagap teknologi'—yang ada hanyalah semangat belajar tanpa batas usia. Satu jam berbagi bisa membuat seorang nenek bisa memesan ojek online sendiri, atau seorang kakek bisa video call dengan anaknya yang bekerja di luar kota.
Yang menggerakkan Sekolah Sore bukanlah pahlawan super, melainkan tetangga biasa. Kamu bisa menjadi salah satu dari mereka. Tidak perlu gelar khusus—cukup kesabaran dan keinginan untuk berbagi. Ada banyak cara untuk terlibat: menjadi tutor sukarelawan, menyumbangkan ponsel bekas yang masih layak pakai, atau menyediakan tempat belajar di lingkunganmu. Setiap kontribusi, sekecil apa pun, adalah investasi untuk masa depan yang lebih inklusif.
Bayangkan, jika setiap RW memiliki Sekolah Sore, berapa banyak lansia yang bisa kembali merasa percaya diri dan terhubung dengan dunia? Saatnya kita bergerak bersama. Bukan untuk menggurui, tetapi untuk mendampingi. Mari luangkan satu jam dalam seminggu, atau sumbangkan perangkat yang tak terpakai. Bersama, kita bisa memastikan bahwa tidak ada yang tertinggal di era digital ini. Mulai dari lingkunganmu sendiri.