Di tengah gejolak ekonomi yang masih terasa, masih banyak saudara kita yang hidup dalam kerentanan. Mereka mungkin luput dari jaring pengaman sosial pemerintah—tidak terdata, tidak terlihat, dan justru berada di sekitar kita: tetangga, kerabat, atau warga di lingkungan yang sama. Ironisnya, kepedulian kita seringkali berhenti pada rasa iba tanpa tindakan nyata.
Padahal, sejarah kita membuktikan bahwa gotong royong adalah jaring pengaman sosial paling autentik. Ketika negara belum menjangkau, warga bisa saling menguatkan. Inisiatif 'Warga Peduli Warga' dari 98 Resolution Network menunjukkan bahwa kepedulian bisa diorganisir, terjadwal, dan berkelanjutan. Bukan aksi dadakan, melainkan gerakan rutin yang membangun kepercayaan dan solidaritas di tengah masyarakat.
Kabar baiknya, model ini sangat mudah direplikasi. Dimulai dari hal sederhana: identifikasi tetangga yang membutuhkan di sekitar kita. Lalu, galang dana atau barang secara kolektif—bisa lewat RT/RW, karang taruna, atau komunitas kampus. Jadwalkan distribusi setiap akhir pekan dengan penuh kekeluargaan. Tidak perlu menunggu jadi kaya untuk berbagi; yang dibutuhkan adalah konsistensi dan kebersamaan.
Ada banyak peran yang bisa kita ambil. Anda bisa menjadi penyumbang tetap, baik uang maupun sembako. Jika waktu memungkinkan, jadilah relawan distribusi di akhir pekan. Atau, inisiasikan titik pengumpulan di lingkungan Anda sendiri. Setiap kontribusi, sekecil apa pun, adalah mata rantai penting dalam jaring pengaman yang sedang kita bangun bersama.
Bayangkan jika setiap kelurahan memiliki 'pos solidaritas' mingguannya sendiri. Kita tidak hanya membagikan sembako, tetapi juga harapan. Mari mulai dari lingkungan kita, karena kolaborasi sekecil apa pun akan menjadi kekuatan besar saat dilakukan bersama. Ayo, wujudkan 'Warga Peduli Warga' di sekitar kita—tidak ada yang lebih kuat daripada gotong royong yang lahir dari hati.