Bayangkan kenyataan yang sering kita lihat: tumpukan sampah, terutama plastik sekali pakai, membanjiri area masjid selepas buka puasa atau shalat hari raya. Ini bukan sekadar masalah kebersihan, tapi merupakan tantangan nyata terhadap nilai-nilai keberkahan dan kepedulian yang justru ingin kita perkuat di bulan suci dan momen bahagia. Sampah yang tak tertangani dengan baik adalah cerminan dari kebiasaan konsumtif yang perlu kita ubah bersama.
Mengapa ini penting? Karena masjid bukan sekadar tempat ibadah ritual, melainkan jantung peradaban dan pusat pembelajaran komunitas. Ketika masjid menjadi contoh dalam mengelola sampah, pesan yang disampaikan sangat kuat: menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah dan tanggung jawab sosial. Gerakan Masjid BERKAH di Bandung membuktikan hal ini. Mereka mengubah rumah ibadah menjadi motor perubahan melalui kolaborasi yang solid antara pengurus DKM, remaja masjid, pelaku usaha, akademisi, dan pemerintah.
Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Aksi nyatanya sangat konkret dan bisa dimulai dari skala kecil. Pertama, dorong sistem pemilahan sampah di masjid lingkungan kita. Kedua, edukasi jamaah tentang konsumsi bijak dan mengurangi plastik sekali pakai. Ketiga, kita bisa menjadi bagian solusi dengan langkah sederhana: membawa wadah makan dan botol minum sendiri saat ke masjid untuk buka bersama atau takjil.
Ini adalah undangan untuk bergerak bersama! Mari jadikan masjid kita bukan hanya tempat mencari spiritualitas, tetapi juga pusat inspirasi dan aksi nyata bagi lingkungan. Ayo ajak pengurus masjid di lingkunganmu untuk mengadopsi semangat BERKAH, tawarkan diri sebagai relawan pendamping, atau mulai dari diri sendiri dengan komitmen kecil yang konsisten. Perubahan besar selalu dimulai dari ruang yang kita cintai dan nilai yang kita yakini bersama. Kolaborasi adalah kuncinya—setiap langkah kita, sekecil apapun, akan bermakna bila dilakukan bersama-sama.