Kolaborator

Berita terpercaya setiap hari.

BERITA TERKINI
Ajak Lansia Go-Digital: Relawan Literasi DibutuhkanBersihkan Pesisir dari Sampah Plastik, Yuk Bergabung!Lansia Bahagia: Relawan Teman Lansia Menghadirkan Senyum di Usia SenjaBank Pangan Komunitas: Mengurangi Mubazir dan Menjangkau Warga RentanSiap Siaga Bencana: Membangun Ketangguhan Kampung melalui RelawanKampung Literasi: Aksi Bersama Menumbuhkan Taman Baca KomunitasRamah Difabel: Relawan Membangun Ruang Publik yang InklusifBergerak Bersama Ciliwung: Gotong Royong Menghidupkan Sungai Urban Ajak Lansia Go-Digital: Relawan Literasi DibutuhkanBersihkan Pesisir dari Sampah Plastik, Yuk Bergabung!Lansia Bahagia: Relawan Teman Lansia Menghadirkan Senyum di Usia SenjaBank Pangan Komunitas: Mengurangi Mubazir dan Menjangkau Warga RentanSiap Siaga Bencana: Membangun Ketangguhan Kampung melalui RelawanKampung Literasi: Aksi Bersama Menumbuhkan Taman Baca KomunitasRamah Difabel: Relawan Membangun Ruang Publik yang InklusifBergerak Bersama Ciliwung: Gotong Royong Menghidupkan Sungai Urban
  1. Home
  2. Ajak Lansia Go-Digital: Relawan Literasi...

Ajak Lansia Go-Digital: Relawan Literasi Dibutuhkan

Ajak Lansia Go-Digital: Relawan Literasi Dibutuhkan
Banyak lansia masih gagap teknologi, padahal layanan publik dan komunikasi kini serba digital. Program ‘Sekolah Digital Lansia’ membutuhkan relawan untuk mengajarkan hal sederhana seperti pesan, video call, dan belanja online. Dengan meluangkan 2–3 jam per minggu, Anda bisa memberdayakan mereka, mempererat hubungan antargenerasi, dan menumbuhkan rasa percaya diri lansia. Mari bergabung menjadi relawan literasi digital—satu langkah kecil Anda berarti besar bagi mereka.

Bayangkan orang tua kita sendiri—yang dulu penuh semangat mengajari kita membaca dan menulis—kini justru tersisih dari dunia digital yang serba cepat. Banyak lansia di perkotaan maupun pedesaan masih gagap teknologi, sementara layanan publik, informasi kesehatan, bahkan komunikasi dengan anak cucu sudah berpindah ke layar ponsel. Mereka bukan tidak mau belajar; hanya saja belum ada tangan yang sabar menuntun.

Keadaan ini bukan sekadar soal keterbatasan akses, melainkan juga soal harga diri dan koneksi sosial. Ketika seorang nenek tidak bisa melihat foto cucu di WhatsApp, atau kakek kebingungan saat harus membayar tagihan online, rasa percaya diri mereka perlahan mengikis. Padahal, lansia memiliki pengalaman hidup dan kebijaksanaan yang tak ternilai. Memberdayakan mereka dengan literasi digital berarti menjembatani kesenjangan generasi, sekaligus membuka pintu bagi mereka untuk tetap terhubung dengan keluarga, mendapatkan informasi penting, dan menjalani hari-hari dengan lebih mandiri.

Kabar baiknya, kita bisa menjadi bagian dari solusi. Program ‘Sekolah Digital Lansia’ di balai RW, posyandu, atau bahkan di rumah-rumah ibadah membutuhkan relawan literasi digital. Cukup luangkan 2–3 jam per minggu untuk mengajarkan hal-hal sederhana: cara mengirim pesan, melakukan panggilan video, atau belanja online dengan aman. Anda tidak perlu menjadi ahli IT—yang dibutuhkan hanya kesabaran, empati, dan keinginan berbagi. Jika tidak bisa menjadi mentor secara langsung, Anda bisa membantu menyediakan modul sederhana yang mudah dipahami, atau bahkan cukup menjadi teman diskusi yang mendampingi mereka saat belajar.

Ini bukan soal mengajari, tapi soal merangkul. Setiap kali seorang lansia berhasil mengirim emoji pertama, setiap kali mereka bisa memanggil cucu lewat video call, kita ikut menciptakan momen berharga yang memperkuat ikatan antargenerasi. Ayo, jadilah relawan literasi digital untuk lansia di sekitar Anda. Mulailah dari satu langkah kecil: hubungi pengurus RW, posyandu, atau komunitas terdekat yang memiliki program serupa. Satu jam Anda bisa mengubah dunia mereka—dan mungkin, juga mengubah pandangan Anda sendiri tentang arti koneksi sejati.

ARTIKEL TERKAIT